Rabu, 17 Januari 2018
http://www.zoofirma.ru/
http://www.zoofirma.ru/

Bukan Jalanku

Ditulis oleh  Diterbitkan di Cerpen Sabtu, 11 Maret 2017 12:47
Nilai butir ini
(0 pemilihan)

jlnCerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari

Pagi ini teramat cerah, matahari menepis air mata dari langit yang telah lelah merintih semalaman. Aku pun ikut menepis luka yang baru kemarin kurasakan, luka yang sengaja digores oleh seseorang yang begitu kupercaya dan kucintai.

Dia terhitung masih tetangga denganku, rumahnya berada di dekat perempatan yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahku. Ia bernama Hasan, teman sepermainanku sejak kecil yang menjadi orang paling kupercaya dalam hidupku.

Suatu pagi yang cerah, Hasan menemuiku di rumah dengan wajah yang tidak biasa, “Nur, aku pamit sama kamu” ucapnya lirih, “Kamu mau kemana?” tanyaku heran, “Aku mau cari kerja di Jakarta, tunggu aku pulang ya Nur, aku akan kembali untukmu nanti” janji itu kupegang teguh dalam hatiku, aku selalu meyakini dalam do’a bahwa suatu hari ia akan benar-benar kembali untukku.

Berhari-hari kulewati dengan perasaan tak menentu, karena kekasih yang aku tunggu tak pernah memberi kabar walau hanya sebatas kabar angin. Aku terduduk di sini, tempat dimana ia biasa menemuiku dengan senyum dan kata-kata yang begitu meyakinkan.

Tak terasa sudah satu tahun aku menunggu kepulangannya, paman Deri yang tahu aku selalu menanti dengan berat hati memberitahu kabar yang mengejutkan. “Nur, satu tahun kamu menunggu kepulangan Hasan, apa kamu tidak jenuh?” tanya paman Deri, “Tidak paman, karena saya masih menunggu janjinya yang akan menjemput saya di sini” paman Deri menghapus keringan di dahinya, “Paman sangat senang jika Hasan mau kembali, tapi…”, belum sempat paman Deri menceritakan tentang Hasan, sebuah mobil Inova masuk ke halaman rumah Hasan. Paman Deri meninggalkanku, ia menyambut seseorang yang turun dari mobil “Hasan?” nama yang aku sebut tidak membawa kenyataan seperti yang aku harap. Hasan turun membuka pintu untuk seseorang, “Siapa dia?” tanyaku heran saat melihat gadis cantik itu turun dari mobil yang dikendarai Hasan.

Paman Deri menemui ayah dan ibuku, kudengar dari bilik kamar ia sedang menceritakan perjalanan Hasan di Jakarta. Gadis itu bernama Vera, ia adalah seorang biduan Jakarta yang jatuh hati pada Hasan. Mereka pulang untuk menetap di sini karena Hasan tidak ingin istrinya menjadi biduan lagi, mereka sudah dikaruniai seorang putra yang katanya sangat lucu. Hancur dan kecewanya perasaanku tak pernah kuumbar, hanya kusembunyikan dalam hati tanpa harus ada yang tahu.

Hari terus berganti, aku sekolah seperti biasa dengan teman-teman SMP yang bandel dan penuh petualangan. Hari ini aku berangkat sekolah membawa baju ganti, meski sudah kelas 3 tapi aku tetap tidak ingin terlalu sibuk dengan pelajaran karena teman-teman dekatku banyak yang suka menghabiskan waktu bermain atau hang out di tempat wisata. “Nur, katanya pacar kamu nikah ya?” tanya Yudha, “Iya, dia pulang seminggu yang lalu”, “Nikah sama siapa, Nur?” sambung Luna, “Katanya sih biduan Jakarta gitu” teman-temanku tidak ingin aku larut dalam kesedihan, mereka mencoba menghibur dan mengalihkan fikiranku.

Akhir-akhir ini pikiranku masih tertuju pada Hasan dan janji yang pernah ia ucapkan dulu, terlebih sekarang ia tidak pernah menyapaku bahkan menatap atau tersenyum saja ia enggan. Sore ini aku duduk di perempatan, kulihat Hasan berjalan dari rumahnya entah akan ke mana, “Sombongnya, mentang-mentang udah menang udah nikah duluan, nggak mau lagi nyapa aku” ucapku, ia hanya terdiam. Saat itu ingin rasanya aku menampar dan memukulinya, tapi aku bukan perempuan yang emosional karena saat dia meminta maaf aku hanya bisa dengan terpaksa melupakan semua kejadian ini.

Aku sekolah seperti biasa, sebentar lagi akan ada Ujian kelulusan dan aku terpaksa harus bergelut dengan buku agar bisa menuntaskan sekolah ini. “Nur, kamu nanti mau daftar ke mana?” tanya ayah, “Nggak tahu yah, males aku”, “Kamu harus punya tujuan, coba ke SMA 1 aja gimana?” tambah ibu, “Aku males bu, kerja aja lah”, “Kamu harus sekolah yang tinggi biar dapat derajat yang baik juga”, “Tapi Nurma nggak ada temennya”, “Kan temen sekelas kamu juga banyak yanag sekolah ke SMA”, “Ah males, Yudha. Luna sama yang lain juga udah nggak sekolah” ayah dan ibu sempat memaksaku untuk melanjutkan ke SMA. Tapi aku tidak ingin dipusingkan lagi dengan buku pelajaran, aku ingin bekerja mencari uang seperti teman-teman yang lain.

Suara ayam membangunkanku pagi ini, aku terbangun dengan keadaan sangat malas karena hari minggu menjadi hari yang membosankan untukku. “Nur, kamu nggak ke rumah depan?” ucap Ibu, “Memang ada apa di rumah depan, Bu?”, “Keponakannya bu Dewi datang dari Jakarta”, “Hooaammm kenapa harus Jakarta, ibu mau ke sana?”, “Iya ini mau ke sana, kamu cepet mandi”, “Iya bu” aku terpaksa mengikuti ibu ke rumah bu Dewi yang berada tepat di depan rumahku. Di sana aku dikenalkan dengan keponakannya yang menurutku lumayan, “Hay, kayaknya aku belum pernah ketemu kamu ya?” ucapnya, “Iya mungkin” balasku cuek, “Nama kamu siapa?”, “Nurma, kamu?”, “Aku Ishaq”. Semenjak perkenalan itu, aku semakin akrab dengan Ishaq juga karena keluarga bu Dewi begitu baik pada keluargaku. Dia menjadi teman sekaligus kakak untukku, dia orang yang bisa membuatku melupakan Hasan dan kenangan pahitku dulu.

Sampai suatu hari, Ishaq sedang menemaniku membersihkan rumah, “Nur, ajak Ishaq istirahat dulu” ucap paman, “Iya paman” aku mengajak Ishaq duduk dan memberinya minuman dingin serta makanan ringan, bibi keluar dengan makanan kecil, “Ishaq, selama ini kami sudah menganggap kamu seperti saudara, kedekatan kamu dengan Nurma sudah tidak ada yang heran” paman Anang menghisap cerutunya, “Kalian kan sudah sama-sama dewasa, meski Nurma baru lulus SMP tapi dia sudah bisa dianggap dewasa, ada baiknya jika kalian punya hubungan yang lebih serius” kulihat Ishaq mengerutkan keningnya lalu tersenyum. Dia meletakkan gelas yang tinggal separuh, “Saya juga menginginkan hubungan ini serius paman, tapi untuk saat ini saya masih belum bisa memenuhi permintaan paman dan bibi. Saya akan berusaha mencari pekerjaan dulu, setelah siap saya akan kembali untuk melamar Nurma” Ishaq begitu yakin dengan kata-katanya. Kami berbincang banyak hal, juga tentang keinginanku bekerja di banding harus sekolah yang masih harus memerlukan biaya tidak sedikit. Setelah hari hampir sore, Ishaq berpamitan untuk pulang dan dia sempat mengatakan akan memikirkan permintaan paman dan bibi. Ia pulang dengan meninggalkan senyum termanisnya untukku.

Perjalanan hidup seseorang tidak ada yang tahu, aku sempat mendapat protes dari keluarga karena tidak mau melanjutkan sekolah ke SMA. Beberapa minggu ini aku sudah bekerja di sebuah wartel di areal pasar senin dekat jalan raya, boss yang aku punya begitu senang jika aku menjaga wartelnya karena aku bisa membuat banyak pelanggan betah menggunakan layanan telepon di sini. Aku bekerja harian terkadang sampai malam, boss memberiku uang makan karena aku tidak disediakan makan di tempat kerja maka dari itu aku harus mencari makan di tempat lain. “Mbak, nasi kayak biasa ya ini uangnya” ucapku, “Oh iya Nur, tunggu ya” aku sudah begitu akrab dengan penunggu warung, ia bernama mbak Rita. “Nur, kamu kalau misalnya mbak kenalkan sama adikku mau nggak?” tanya mbak Rita suatu ketika, “Ah nggak mbak, aku masih mau kerja dulu” mbak Rita hanya tersenyum, entah mengapa semenjak pertanyaan mbak Rita kujawab rasanya ada yang aneh dengan hatiku. Mungkin karena aku sering makan di tempatnya, hatiku mulai luluh dengan tawarannya meski terkadang aku selalu memikirkan Ishaq.

“Kamu mau itu kejadian dua kali” ucap ayah, “Ya nggak yah, tapi aku ngerasa Ishaq berbeda dengan Hasan” banyak pertimbangan dengan keluarga hingga keputusan akhir aku rela di jodohkan dengan adik mbak Rita yang kelihatan lebih tua dariku. Banyak perubahan ketika aku mulai mengenalnya, seseorang yang begitu dewasa tapi sangat pemalu yang berbeda jauh dengan pribadiku yang cerewet dan sok kenal. Setelah beberapa lama saling mengenal, diputuskan pernikahan yang sakral antara aku dengannya. Satu minggu sebelum pernikahan aku sempat bermimpi Ishaq datang menemuiku, “Kenapa kamu begitu tega sama aku Nur”, “Apa maksud kamu” Ishaq seperti akan menangis, “Kenapa kamu khianati janji kita, aku di sini berusaha untuk bisa melamarmu tapi kamu memilih orang lain” sebelum sempat kujawab Ishaq sudah pergi dengan linangan air mata. Aku terbangun dari mimpi, entah mengapa tiba-tiba aku ingin menangis saat mengingat Ishaq. “Kenapa kamu nggak muncul, udah hampir 2 tahun aku nunggu” aku merasa hampir putus asa karena selama satu tahun lebih Ishaq tidak pernah memberiku kabar sama seperti kepergian Hasan dahulu.

2 tahun kemudian…
Suamiku pulang ketika aku masuk ke dalam rumah, kebiasaannya yang sudah ku hafal ketika kuminta mengantar main ke rumah Paman Anang. “Nur, aduh gawat Nur” ucap Bibi tiba-tiba, “Kenapa, Bi?”, “Ishaq datang ke sini sama kakaknya”, “Mau ngapain?”, “Ya mungkin mau melamar kamu”. Benar saja, tidak berapa lama Ishaq datang ke rumah bersama kakaknya, setelah mengutarakan niatnya paman menjelaskan bahwa aku sudah menikah. “Sebenarnya paman sudah berusaha menjaga Nurma, tapi orangtuanya trauma dengan masa lalu Nurma yang pernah ditinggal nikah sama pacarnya” ucap paman Anang, “Tapi saya tidak seperti mantannya itu paman, buktinya saya kembali untuk melamar dia” paman Anang menatap bibi, “Bagaimana ya nak, kami mohon maaf tapi Nurma sudah bersuami karena selama 2 tahun ini kamu tidak memberi kabar sama sekali” Ishaq tidak percaya pada ucapan paman Anang, bibi mengajakku keluar dan menunjukkan kandunganku yang sudah berusia 7 bulan. Ishaq terpaku menatapku, ia menghampiriku lamat-lamat kudengar suaranya yang disusul dengan air mata, “Kenapa bayi ini tidak menjadi milikku” ucapnya dengan suara serak, ia memeluk dan mencium perutku yang sedang mengandung seorang anak. Semua orang yang ada di ruangan itu ikut terharu melihat kenyataan, Ishaq ternyata benar-benar mencintaiku. Kekecewaan yang ia rasa mungkin sama perihnya seperti kecewaku melihat Hasan bersama istrinya. Jika ini balasan yang diberikan alam maka aku ikut kecewa, kenapa harus orang setulus Ishaq yang menerimanya.

Jalan takdirku tak kupahami, bergulirnya cerita ini kubiarkan mengalir sendiri tanpa kucoba mengubah atau membelokkan jalan. Mungkin ini jalan yang telah digariskan, Ishaq bukanlah jodohku.

Cerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari

Baca 1748 kali Terakhir diubah pada Kamis, 11 Januari 2018 04:50
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Gerimis Merah (Cerpen) Kisah Kasih Di Omaru »
Masuk untuk memberikan komentar

 

 

logo panjang 300 bw

www.nuansamigrant.com

Jl. Raya Semanding RT.01 / RW.07

Kepanjen - Malang

Jawa Timur - Indonesia

Beranda | Info Iklan | Redaksi

Peta Lokasi

add google map to website

Facebook Kota Malang